Jumat, 27 Januari 2012

Melepaskan diri dari barisan dakwah lalu berdakwah sendiri..



Dakwah ini tidak sebentar, sangat panjang perjalanannya. Coba perhatikan lagi, apa yang membuat dakwah bisa hidup selama lebih dari 1433 tahun. Ternyata ada janji Rasulullah yang mengatakan bahwasanya setiap 100 tahun ada generasi pembaharu yang siap untuk melahirkan dakwah lagi. Kalau sekitar tahu 1900 an keatas ada Moh. Natsir, lalu tahun 2000 keatas ada siapa?
Seharusnya mulai sekarang kita harus memikirkan juga siapa generasi penerus kita selanjutnya. Generasi penerus yang siap untuk memegang api dakwah ini. Kenapa harus api? Ya, karena kalau dilepaskan akan membakar sekelilingnya, namun kalau dipegang, akan menyiksa atau bahkan menyakiti yang memegangnya. Begitulah dakwah, semakin sulit saja tantangannya. Mulai dari internal dakwah itu sendiri, sampai pada eksternalnya yang tantangannya semakin besar.
Melepaskan diri dari barisan dakwah lalu berdakwah sendiri? Rasanya sangat bisa kalau hanya dipikirkan jangka pendek, akan tetapi ternyata kembali lagi, ternyata dakwah tidak bisa dilakukan sendirian. Bahkan orang paling bagus sedunia pun, tidak pernah lepas dari yang namanya jama’ah, yah Rasulullah ternyata tidak bisa sendiri sekalipun beliau adalah orang paling hebat di dunia. Sekalipun beliau adalah manusia yang namanya sering disebut tersebut tidak bisa hidup sendiri. Beliau membutuhkan yang namanya ”jama’ah”
Bahkan beliau membuat lingkaran kecil untuk mengkader, sehingga dari lingkaran kecil itu muncullah calon-calon pemimpin bangsa, sehingga menciptakan suasana yang islami. Akan tetapi tidak semua orang jaman itu merasakan nikmatnya halaqah bersama Rasulullah, hanya orang-orang terpilih lah yang beliau rekrut untuk menjadi kader terbaiknya.
Sampai saat ini, lingkaran kecil itu masih kita rasakan, namun tidak semua orang merasakannya. Tempat orang awam yang menyebutnya sarang teroris tersebut merupakan sarana pengkaderan Rasulullah sehingga memunculkan sebuah jama’ah dengan pergerakan islami. Lalu muncullah negara madani. Sebuah negara kecil yang tidak semuanya islam, masih banyak orang-orang yahudi di dalamnya, masih banyak orang-orang munafik di dalamnya, namun mereka merasa ternaungi dengan islam.
Akan tetapi sekarang ini, orang-orang awam phobia dengan islam. Hal tersebut tidak hanya saat ini saja, akan tetapi sudah lahis sejak 1928. ketika itu PKI lebih mendominasi media, mungkin saat ini juga. Sehingga dulu orang islam lebih merasa aman kalau tidak membawa-bawa nama islam. Hingga akhirnya diperparah ketika jaman Soeharto yang lebih menyudutkan islam dan mengidentikkan islam dengan teroris, sehingga kala itu islam seakan-akan kembali ke jaman rasulullah, yaitu berdakwah secara sembunyi-sembunyi.
Akan kah kita mengira islam sudah aman? Tidak kawan, ternyata ketika zaman Gus dur, islam terancam lagi. Terancam dengan dicabutnya peraturan tentang pelarangan yahudi di Indonesia. Akhirnya pada tahun 2000 yahudi berkembang di Indonesia.
Jaman Pak SBY juga tidak jauh berbeda, teroris yang semakin menyudutkan islam membuat aktivis dakwah di Brawijaya terancam. Pernah kah kita teringat saat dimana setiap ba’da dhuhur ikhwan berkumpul di masjid Raden Patah –Brawijaya- untuk mengembangkan gerak dakwah mereka? Akan tetapi itu tidak berjalan lama, takmir masjid diganti, dakwah mulai menciut. Semoga saja tidak mati, kalaupun mati, semoga itu hanya mati suri, sehingga ketika bangun lagi, dakwah akan lebih menggebrak Brawijaya. Mungkin perkumpulan setiap selesai dhuhur itu hanya dirasakan senior 2007 keatas. Akan tetapi, besar harapan teman 2008,2009,2010 dan 2011 ikut merasakannya.
Kembali lagi ke jama’ah, kenapa harus membutuhkan jamaah sementara sendirian saja bisa kok.
Coba kita perhatikan lagi kenapa Rasulullah mewajibkan shalat berjamaah? Padahal shalat sendirian bisa lebih khusyu’ atau lebih lama dalam mendalami setiap ayat yang dibaca. Atau bahkan ada yang merasa bahwa shalat sendiri lebih cepat, tidak harus menunggu iqomah, atau bahkan tidak harus menunggu barisan lurus baru melaksanakan takbir. Akan tetapi memang kekeruhan dalam berjamaah itu lebih baik daripada kejernihan namun dilakukan sendirian. Dengan adanya berjamaah kita akan lebih dekat dengan sudara-saudara kita yang kesibukannya berbeda-beda. Bertemu dengan saudara-saudara yang hanya bisa ditemui ketika waktu-waktu shalat saja. Atau bahkan ibarat sebuah lidi yang digunakan membersihkan kotoran. –mungkin kiasan ini sudah lama dan sering kita dengar-. Kalau hanya dengan satu lidi, akankah bisa untuk membersihkan kotoran ayam yang sedang mengotori lantai? Coba kalau satu satu lidi tersebut digabungkan? Kotoran 10 ayam pun bisa untuk dibersihkan.

Wallahu ’Alam.
Izzur Rozabi Mumtaz
Malang, 27 januari 2012
09:19

Aku sudah tidak tertarik pada orangnya



Mengenai hati. Salah satu bagian tubuh yang paling sensitive. Sakit yang dirasakan oleh tangan akan dapat hilang begitu saja. Sakit yang dirasakan kaki, juga tidak akan bertahan lama. Namun. Sakit yang dirasakan oleh hati? Akan bertahan sangat lama, apalagi kalau hati itu sudah luka, lalu ditambah dengan luka yang kita berikan akan membuat sakit hati semakin parah.
Di dalam pengkaderan –karena di bagian kaderisasi, jadi bahasan saya tidak jauh-jauh dari ini, hehe- dibutuhkan pendekatan lewat Qalbu. Karena pendekatan ini termasuk pendekatan paling ampuh untuk mengikat seseorang. Pernah ada sebuah cerita tentang seorang yang ingin memerangi dakwah, namun ketika awal masih menjadi maba, dia sangat dekat dengan teman-teman aktivis dakwah kampus, dia orangnya sangat care, terkadang dia meluangkan waktunya untuk sms ke adik-adik tingkatnya, menanyakan keberadaannya.
”Adik sekarang dimana?”
”Di kosan kak”
Tidak lama kemudian dia sudah sampai kosan atau kontrakan adik tingkatnya untuk mengunjunginya. Terkadang kalau teman atau adik tingkatnya sakit, dia rela menunggu hingga sembuh, memberikan perhatian lebih bahkan memberikan sebuah pijatan yang terkadang membuat sang adik atau temannya merasa dihargai, atau bahkan terasa di rumah sendiri karena ada yang sangat perhatian kepadanya. Namun seiring berjalannya waktu, kader yang sangat perhatian ini –mungkin- kurang mendapatkan perhatian dari teman-teman kader yang lain, sehingga dia merasa terasingkan, lalu membuat pergerakan tersendiri. Yah tepatnya pergerakan untuk melawan dakwah. Lalu darimana anggotanya? Ternyata dulu dia tidak hanya care dengan aktivis dakwah, dia dekat dengan semua. Sehingga ketika dia meminta bantuan kepada teman-temannya yang lain, teman-temannya menanggapi dengan tangan terbuka dan siap. Bahkan terkadang aktivis-aktivis dakwah merasa berat untuk melawannya. Karena dia dulunya sangat perhatian dengan mereka.
Sudah berapa adik yang kita kunjungi sampai saat ini? Mana perhatiannya? Inikah yang namanya ukhuwah? Atau ukhuwah itu hanya terbentuk dengan teman seangkatan saja, bahkan merasa jadi senior jadi tidak membutuhkan adik-adik untuk dikunjungi?
Sekarang kita perhatikan lagi aktivis dakwah yang beredar di sekitar kita, jumlah mereka semakin banyak, tapi terkadang seperti hidup sendiri-sendiri. Semua sibuk dengan laptop barunya, sibuk dengan modem barunya, sibuk dengan permainan baru di HP atau laptopnya, sibuk dengan game yang tidak bermanfaat sama sekali, atau bahkan yang paling parah sibuk dengan facebooknya.
Namun kembali lagi, aku sudah tidak tertarik pada orangnya, namun tertarik kepada sistemnya. Orangnya sebentar lagi sudah berganti kok. Tinggal menunggu waktu. Siap atau tidak. Atau bahkan tidak menerima breakdown dari yang atas sehingga semakin buruk. Atau bahkan karena melihat yang atas seperti itu, jadi yang bawah ikut-ikutan.
Berdakwah dengan hati akan lebih mengena dibandingkan dengan lisan saja. Berdakwah dengan hati memang lebih mengena, akan tetap berdakwah melalui hati tidak dapat berjalan dengan baik kalau tidak dibantu organ-organ tubuh yang lain. Seperti lisan untuk berbicara, kaki untuk berjalan menuju obek dakwah, dan tangan untuk melakukan hal yang lainnya.
”Tidak ada gading yang tidak retak”
Namun kita sebagai manusia yang berfikir, diusahakan untuk memperbaikinya. Kalau mengingatkan lewat lisan takut dikira sok, yasudah lewat tulisan, semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah mohon ana diingatkan. Kalau ada yang bilang terlalu frontal. Monggo diingatkan sebelum terlampau jauh membahasnya.

Wallahu ’Alam
Izzur Rozabi
Malang, 26 Januari 2012
06 :08

Kamis, 26 Januari 2012

INI ISLAMKU, MANA ISLAMMU?


Ada yang bilang kalau saya itu terlalu menurut dengan apa yang dikatakan murabbi saya, bagaimana tidak mau menurut, semua pendapatnya baik, semua yang diperintahkannya baik-baik. Baikkah ketika dia menyuruh saya melaksanakan shalat jamaah lima waktu? Sangat baik, yang tidak baik itu ketika dia meyuruh saya melaksanakan jamaah shalat wajib enam waktu. Baikkah menurut anda ketika dia berkata, ”berbuat baiklah kepada orang tua”, sangat baik bahkan Allah sendiri menyuruh kita untuk melakukannya melalui ayat-ayat cinta-Nya. Sungguh saya tidak tahu apa yang ada di fikiran orang-orang yang menjelek-jelekkan pertemuan ini.

Bahkan sempat tersiar kabar bahwa saya sedang mengikuti islam garis keras. Kalau ada islam garis keras, berarti ada yang garis bengkong, garis lonjong, atau bahkan islam garis lunak. Mohon maaf, islam itu satu. Tidak ada yang seperti itu. Kalaupun ada yang membuat bom, itu orang islamnya, bukan islamnya. Kalau ada yang menajiskan orang islam yang bukan golongannya, berarti yang bermasalah itu adalah organisasinya, bukan islamnya. Islam itu sunnguh Rahmat bagi seluruh alam.

Sungguh lucu jika ada orang islam mengatakan saudaranya yang tidak mau berjabat tangan dengan saudara lainnya yang bukan mahramnya sudah dikatakan islam garis keras. Saudaranya yang menggunakan celana diatas mata kaki dikatakan mengikuti ajaran sesat. ”Ah, surga masih jauh” seperti yang tergambar di dalam buku Dalam dekapan ukhuwah karya Salim A. Fillah. Sepertinya saudara kita yang mengatakan seperti itu membutuhkan suatu pelajaran yang lebih tentang ilmu islam. Sekarang bagaimana  cara kita untuk mengislamkan orang islam yang fikirannya sudah terpengaruhi pemikiran-pemikiran liberal. Pikiran-pikiran bebas. Disangkanya surga miliknya semata.

Saya sungguh heran dengan orang liberal, bagaimana bisa mereka membolehkan mencopot krudung mereka ketika mereka sudah mempunyai suami dengan alasan krudung hanyalah sebagai guard –pelindung-, sekarang kan mereka sudah punya pelindung, yaitu suami mereka sendiri, Na’udzu billah. Sungguh jilbab itu memang sebagai pelindung, tapi satu hal yang mereka tidak terapkan, yaitu jilbab sebagai pelindung sekalipun mereka mempunyai guard. Allah sendiri berfirman kepada mereka yang sudah mempunyai suami di dalam sebuah ayat di Al-Qur’an yang isinya seperti ini, ”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ’hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak akan diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, maha Penyayang.” (Q.S Al-Ahzab : 59)

Sudahkah mereka berfikir tentang itu? Masih banyak permasalahan-permasalahan agama yang dianggap gampang. Memang islam itu mudah, tidak perlu dipersulit, namun satu kata yang terlewat dari mereka, yaitu jangan memudah-mudahkan agama.

Ketika jaman rasulullah pernah ada yang menghadap rasulullah,

”Ya Rasulullah, saya telah melakukan hubungan suami istri dengan istri saya ketika sedang berpuasa di bulan ramadhan, apa yang harus saya lakukan?”

”bersedekahlah dengan seekor unta”

”Ya Rasulullah, saya ini miskin.”

”bersedekahah dengan emas”

”Ya Rasulullah, uang untuk membeli makan saja terbatas”

”carilah orang termiskin di negeri ini, berilah dia makanan untuk berbuka”

”Ya Rasulullah, lah wong saya ini orang termiskin di negeri ini”

”kalau begitu berbukalah”

Sungguh mudah kan islam itu? Namun sekarang ini banyak yang memudah-mudahkan dengan berdasarkan pengertian-pengertian mereka sendiri. Jangan sampai nanti karena islam itu mudah, jadi shalat wajib digabung menjadi satu dalam satu waktu. Memang ketika kita melakukan perjalanan dengan hambatan susah melaksanakan shalat, maka memang dapat di qasar, namun ketika tidak ada hambatan kenapa digabung? Apalagi dijadikan dalam satu waktu. Sungguh Rasulullah tidak mengajarkan demikian. Liberal itu memang ada, namun jangan mau islam kita diliberalkan!!

Pernahkah anda mendengar pertanyaan seperti ini, ”Kamu ngapain puasa kalau hanya menunggu bulan ramadhan saja?”, tidak ada tanggapan serius tentang pertanyaan itu, karena pertanyaan seperti itu hanya dapat dijawab denan menggunakan logika, ”kamu masak kalah sama ulat? Ketika waktunya tiba, dia berpuasa untuk berubah menjadi kupu-kupu yang diidam-idamkan orang. Kenapa seperti itu? Karena ulat tadi tidak mau mati dalam keadaan hina, dalam keadaan dimana stiap orang menggunjingnya. Kamu mau kalah sama ular? Ular saja setiap beberapa bulan sekali mengadakan acara berpuasa untuk mengubah kulitnya. Lihatlah, hewan berbisa saja mau melaksanakan puasa!!”


Wassalam
Izzur Rozabi
Pasuruan, 1 Agustus 2011
06:05

INI FACEBOOKKU MANA FACEBOOKMU?


Hampir setiap diantara kita mempunyai facebook. Kalau orang Indonesia berwacana, orang yang tidak dapat membaca adalah orang yang buta huruf, namun berbeda lagi ketika kita berada di Amerika serikat. Orang Amerika mengatakan dirinya buta huruf ketika dia tidak update dengan teknologi saat ini, oleh karena itu marilah kita pelajari serta memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Saya merasa bangga kepada anak bangsa yang saat ini tidak hanya memanfaatkan tetapi juga menciptakan teknologi yang baru.

Salah satu teknologi yang digemari Di Indonesia adalah internet. Suatu penemuan yang sangat bermanfaat namun juga merugikan. Tergantung yang menggunakan. Kalau internet digunakan dengan sebaik-baiknya seperti menyebarkan kebaikan lewat internet, memberikan info yang bermanfaat lewat internet maka dapat dikatakan bahwa internet sangat bermanfaat. Namun sisi yang berbeda jika menggunakan internet hanya untuk melakukan hal-hal yang negative saja. Padahal masih banyak hal positif lainnya.

Facebook yang saat ini sedang menguasai Indonesia merupakan salah satu produk internet. Sebagian besar pengguna facebook di dunia berasal dari Indonesia. Namun sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah apa yang kita peroleh dari facebook? Keuntungan atau kerugian?

Kalau yang diperoleh darinya adalah sebuah adalah sebuah kebaikan semisal mempererat jalinan ukhuwah –persaudaraan- dengan kawan-kawan lama, ataupun setiap hari update status dengan kata-kata yang baik dan berisi nasihat yang bertujuan untuk dakwah, maka dapat dikatakan bahwa facebook yang sedang anda kenakan tidak sedang bermasalah. Bahkan dapat dikatakan bahwa anda merupakan salah satu orang beruntung seperti yang digambarkan Al-Qur’an.

“Demi masa. Sungguh, manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Q.S Al-‘Asr :1-3)

Namun berbeda lagi jika facebook yang kita buka setiap hari malah menimbulkan sebuah kemudharatan –kerugian-, misalnya setiap saat update status, namun status itu ditujukan untuk menarik perhatian orang, berkeinginan setiap orang mengetahui keadaannya, mengetahui apa yang sedang dirasakan. Setiap saat mengadu ke facebook. “Lapar”, “Sakit”, “kok ga da yang perhatian sama aku ya?” dan sebagainya. Sungguh itu adalah perbuatan syirik wahai jamaah facebooker!!! Allah tidak menyukai pembanding dengan diri-Nya.

Kalau menghabiskan waktu untuk bermain facebook seharian namun dengan tujuan yang jelas seperti digunakan untuk promosi suatu barang jualan yang halal, maka dapat dikatakan kalau facebook berfungsi dengan baik. Namun berbeda pula ketika menghabiskan waktu seharian untuk bermain facebook, namun hanya untuk bermain game yang hanya akan melalaikan shalat, melalaikan tilawah, melalaikan agenda-agenda lainnya.

Pernahkah anda berfikir bagaimana perasaan orangtua serta saudara anda ketika melihat foto-foto kita di facebook? Cemburu!!! Yakin lah itu yang terjadi dengan mereka. Kalau pun mereka tidak cemburu melihat itu semua, berarti ada saraf yang salah dengan mereka. Bagaimana tidak, foto anak atau saudaranya terpampang di facebook dengan berbagai model, kok yah malah dibiarkan dengan alasan, “Ah, mereka kan masih muda” yah karena mereka masih muda itu harus dijaga. Kalau kita menjaga diri karena Allah ketika masih muda, maka Allah akan menjaga kita ketika kita tua. Jiwanya masih labil. Sering terbawa teman. Kalau saja ada yang melihat anak atau saudara anda memasang foto paling menariknya, terus menimbulkan suatu nafsu dari yang melihat, siapa yang akan disalahkan di pengadilan Agung kelak? Yang melihat? Atau yang memasang foto?

Kalau anda memajang foto terbaik dengan maksud untuk menyombongkan diri merasa paling ganteng atau pun cantik, maka malulah anda.

"Tidak akan ada rasa malu dalam sesuatu kecuali telah dihiasi olehnya, dan perbuatan keji tidak terdapat dalam sesuatu kecuali menjadikannya sebagai aib." (Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam)


Wassalam
Izzur Rozabi
Malang, 4 Agustus 2011
09:25

INI DOKTRINKU, MANA DOKTRINMU?


Setiap orang pasti pernah mendapati dirinya disuruh, diperintah, ataupun diajak oleh orang lain. Ada sebuah ajakan yang baik, ada juga yang buruk. Ada perintah yang baik ada juga perintah yang buruk. Tergantung apakah kita memilih ajakan atau perintah itu atau tidak. Contoh ajakan dan perintah yang baik apa saja yang terdapat di dalam, surat Cinta abadi Milik-Nya, Al-Qur’an. Pernahkah anda menemukan sebuah kecacatan di dalamnya? TIDAK!!!

“dan sungguhh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya Al-qur’an setelah beberapa waktu lagi” (Q.S Az-Zumar : 88)
           
Berbicara mengenai ajakan dan perintah, pernahkah tersadar di dalam pikiran anda bahwa itu dinamakan sebuah doktrin. Apa yang tergambar di lintasan fikiran anda ketika saya menyebutkan kata “doktrin”? Kenapa kebanyakan orang saat ini memperdebatkan tentang sebuah doktrin, tidak ada yang salah dengan doktrin. Seperti yang saya sebutkan di atas, tergantung doktrin -perintah dan ajakan- yang diberikan ; Buruk atau baik.

Setiap orang pasti mendapati sebuah doktrin dari orang lain setiap harinya. Contohnya simple lagi seperti ketika kita akan turun dari bus kota, pasti kondektur bus akan mengatakan, ”turun kaki kiri ya mas.” seketika kita akan menuruti apa yang diperintahkan oleh kondektur tersebut agar tidak terjatuh. Namun berbeda lagi dengan pelanggan yang tidak mau mematuhi kondektur, pelanggan yang menurunkan kaki kanannya terlebih dahulu, pasti akan kesusahan, bahkan pasti akan terjatuh dari bus. Sungguh kita hidup setiap hari tidak lepas dari itu semua.

Selama doktrin itu baik, kenapa tidak diterima? Sekarang ini sangat banyak orang-orang yang didoktrin untuk menjadi lebih baik, namun tidak banyak pula dari mereka yang menolak dengan berbagai alasan.

“Yuk kita shalat jama’ah dulu”

”Ah nanti saja saya shalat sendiri di rumah/kos”

Apakah itu sebuah doktrin? Jelas itu sebuah doktrin, contoh sederhana itu adalah doktrin yang positif yang tidak sedikit dari kita menolaknya.

Terkait dengan doktrin, sudahkah anda mendapatkan doktrin dari kedua orang tua anda untuk memilih agama? Atau anda hanya mengikuti kehendak mereka tanpa bertanya apa itu islam? Kenapa harus islam? Bagaimana menjadi muslim sejati? Kenapa harus shalat? Atau bahkan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mulailah pertanyakan itu kepada orang tua anda. Jadilah orang yang menerima nikmat berupa islam. Jadikan islam itu pilihan kita, jangan jadikan islam hanya sebagai warisan dari kedua orang tua kita sehingga membuat anda tidak berkembang tanpa memahami islam lebih luas, hanya mengikuti orang tua saja, kalau orang tua tidak shalat, ya anda tidak shalat. Mungkin hal seperti itu yang harus diperbaiki. Sebuah keluarga merupakan tempat calon-calon generasi penerus dilahirkan. Tempat para pemimpin bangsa dimulai dari tataran sebuah organisasi kecil yang dinamakan keluarga.

Kenapa islam berkembang di kalangan mahasiswa terutama di kampus-kampus besar atau kampus yang akan berkembang menjadi besar? Karena mereka itu orang-orang pilihan yang pintar dalam mengambil sebuah pilihan, jadi mereka pasti akan berfikir arti dari sebuah kebenaran serta bagaimana keadaan ummat ke depan kalau kerusakan moral terus-terusan terjadi. Pemikiran mereka tidak hanya terbatas untuk generasinya saja. Kalau pun di generasinya tidak berhasil, maka hasil yang diperoleh adalah sebuah keikhlasan demi kejayaan islam, bukan sebuah penyesalan. Mereka akan yakin bahwa generasi selanjutnya akan dapat menang dengan mengambil pelajaran-pelajaran dari generasi sebelumnya.

Saya terkadang ingin tertawa sendiri ketika ada seorang alumni S1 di sebuah perguruan tinggi negeri di salah satu kota besar di indonesia yang memberikan sebuah doktrin yang kurang baik kepada saya ketika saya baru memasuki kuliah, dia mengatakan, ”Kamu jangan ikut-ikutan organisasi-organisasi kerohanian di kampus ndul-begitu caranya memanggil saya-,pasti kamu nanti diajari mengucapkan salam kepada setiap orang di manapun bertemu, nanti kamu akan diajari kata-kata aneh seperti akh, ukh, ana, antum, dan yang lainnya”, laki-laki yang dulu saya kenal baik sekali itu melanjutkan doktrinnya, ”Kamu juga nanti diajak ikut pengajian tiap minggu –pekan-, pengajian itu tidak akan menghadirkan seorang kyai, hanya ustad muda. Nanti kamu juga pasti dikasih lagu-lagu nasyid, lagu-lagu islam. Nanti kedepannya, kamu akan dihadapkan dengan politik negara”

”Siapa yang mengajak kepada kebaikan ,maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan siapa yang mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

Subhanallah. Adakah yang salah dengan itu semua? Mungkin ada diantara anda yang beranggapan bahwa itu semua salah, atau sebagian salah, atau bahkan tidak ada yang salah. Namun itu adalah sebuah doktrin sejajar, yaitu doktrin yang memiliki tujuan agar kedudukan saya sama dengan dia. Mungkin dia dulu ketika berada di kampus tidak mengikuti kerohanian, sehingga ketika saya baru memasuki kuliah sudah di doktrin -ajak- seperti itu agar nasib kami berdua sama. Tidak ikut organisasi.

Ketika saya mendapatkan doktrin seperti itu, saya malah berfikiran untuk bergabung dengan mereka, bahkan setelah memasuki tempat mereka, saya berusaha untuk terus mengikuti kegiatan mereka.  Saya ikuti kajian mereka, dan bahkan benar apa yang dikatakan teman saya, yang mengisi adalah seorang ustad muda, bahasan  yang disampaikan lebih mengena dengan pemuda saat ini, bahasannya di kemas dengan bahasa yang sederhana. Sungguh nikmat mengikutinya, tidak ada salahnya teman saya tadi mendoktrin saya seperti itu sehingga membuat saya mengikutinya, ini adalah cara Allah untuk mempertemukanku dengan mereka. Adakah hikmah yang dapat diambil? Jelas ada, kalau dia tidak memberikan doktrin seperti itu, mana mungkin saya berusaha mencari tahu kerohanian yang ada di kampus. Semoga saudara saya tadi juga mendapatkan balasan atas semua ini, baik atau buruk, Wallahu ’Alam.

Terkait masalah politik, barang siapa yang mencintai agamanya, pasti akan mencintai negaranya. Itu adalah sebuah fitrah yang tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu seorang muslim tidak akan terlepas dari sebuah negara. Jadilah muslim negarawan seperti yang dicontohkan Rasulullah. Bersih. Jujur. Amanah. Tidak seperti politik yang saat ini terjadi di belahan dunia.

Kalau ada yang mengatakan sebenarnya politik itu kotor, maka ijinkan saya berpendapat bahwa politik itu memang kotor, namun tergantung siapa yang memanfaatkan. Ibarat kotoran ayam, kalau orang biasa yang melihatnya, itu akan menjadi sesuatu yang menjijikkan bahkan sangat meresahkan. Lalu bagaimana jika yang melihat itu adalah seorang petani atau peternak? Itu adalah lahan untuk menghasilkan uang dengan cara halal. Kalau masih ada yang mengatakan politik itu kotor, maka ijinkan saya untuk yang kedua kalinya mengatakan bahwa politik itu tidak kotor, yang kotor hanyalah orang-rang di dalamnya. Kalau peraturan dalam politik tidak ada yang kotor.

Pahamilah arti islam itu secara meluas, apa makna yang terkandung dalam islam itu, bahkan pernahkan terfikir di dalam fikiran kita esensi dari syahadat yang menjadi syarat utama untuk menjadi seorang muslim?

Ketika nabi saw bepergian, ditemani mu'adz, beliau memanggil; wahai mu'adz, ia menjawab; ya ' ada apa rasulullah? beliau memanggil lagi " wahai mu'adz , ia menjawab ; ya ada apa rasulullah ? ; beliau memanggil lagi ; wahai mu'adz, ia menjawab ; ya ada apa rasulullah? , ini adalah panggilan yang ketiga kalinya, kemudia beliau bersabda; " seorang hamba yang bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Alloh, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya dengan sebenar- benarnya keluar dari lubuk hati,Alloh pasti mengharamkan dirinya dari api neraka"kemudia muadz bertanya; apakah boleh saya memberitahukan orang banyak supaya mereka gembira ?; beliau bersabda;"Kalau mereka mengetahui,mungkin akan sembrono. tatkala  Mu'adz akan meninggal ia memberitahkuan hal ini karena takut akan berdosa (HR Bukhari dan Muslim, Dari Anas ra)

Pemaknaan kita atas syahadat masih belum sepenuhnya, karena itu kita belum dapat menikmati islam secara menyeluruh. Hanya setengah-setengah. Sedikit-sedikit berbuat maksiat, sedikit-sedikit mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, sedikit-sedikit menggunjing sesama saudara, sedikit-sedikit marah. Ah, sungguh indah kalau kita benar-benar memahami islam.


Wassalam
Izzur Rozabi
Pasuruan, 1 Agustus 2011
06:23