Selasa, 31 Januari 2012

Ilmu = Usaha



Keilmuan memang dibutuhkan untuk membangun sebuah peradaban. Banyak sekali pendahulu-pendahulu islam yang tidak lepas dari dunia keilmuan. Bahkan menggemparkan sejarah dengan ilmu mereka. Ada yang di bidang kedokteran sampai ekonomi. Namun satu hal yang tidak mereka lepaskan. Keislaman mereka. Itulah yang menjadi dasar mereka sehingga ilmu mereka biasa disebut ilmu islam. Ada kedokteran islam. Ada ekonomi islam. Ada politik islam. Dan mungkin sebenarnya ada lebih banyak yang berbau islam daripada itu semua.
Terkadang yang membatasi kita untuk mencari ilmu lebih adalah merasa pintar sehingga tidak membutuhkan ilmu tambahan, atau malas karena sudah bisa mendapatkan ilmu dengan mudah di internet, radio, artikel dan sebagainya. Banyak kajian disana. Banyak ceramah ustad-ustad yang terkenal, sehingga malas keluar dari kamar, dan hanya medengarkan itu saja.
Ilmu yang didapat, sepadan dengan usaha yang dilakukan. Kalau usahanya minimal seperti itu, hasilnya akan berbeda dengan saudara kita yang bersusah payah untuk mendatangi kajian, bahkan rela jauh-jauh untuk mendengarkan majlis ilmu. Tidak jarang pula hujan datang, akan tetapi turunnya hujan tidak dibarengi dengan semangat untuk mendatangi majlis ilmu. Semakin deras hujan turun ke bumi, semakin naik semangat untuk  menghadiri majlis ilmu. Perjuangan sulit seperti itulah yang sangat dihargai oleh Allah. Karena pada dasarnya yang dinilai oleh Allah adalah usahanya. Seperti halnya ketika akan melaksanakan shalat, yang paling susah bukan melaksanakan shalatnya, akan tetapi ketika akan mengambil wudhu, ketika akan menuju masjid.
Ilmu ada dimana-mana, namun tergantung kita mau mengambilnya atau tidak. Mengambil ilmu-ilmu tersebut juga harus diberikan saringan sehingga ilmu-ilmu yang baik saja yang diserap. Karena tidak semua ilmu yang didapat itu selalu positif. Sama halnya dengan ilmu agama, tidak semua ilmu yang didapat selalu positif, terkadang ada yang kurang mengenakkan sehingga perlu diklarifikasi lagi.
Terkadang orang yang merasa banyak memiliki ilmu, maka dialah orang yang tidak memiliki ilmu. Orang-orang terdahulu sangat menghargai ilmu pula, sehingga lahirlah yang namanya penulisan Al-Qur’an, periwayatan hadits, bahkan sampai ilmu-ilmu islam lainnya.
Sekarang kita sedang menunggu siapa? Ilmuwan-ilmuwan muslim sudah sangat sedikit, lebih disibukkan dengan mencari dan mengejar duniawi sehingga tidak heran jika barat merebut kejayaan ummat ini.
Marilah saudaraku untuk bangkit dan selalu menuntut ilmu. Dimanapun itu. Kalian adalah seorang da’i yang ditakdirkan oleh Allah untuk masuk Fakultas Ekonomi sehingga melahirkan ekonomi islam, kalian adalah orang yang mengerti agama yang dimasukkan oleh Allah di Fakultas hukum sehingga bisa menciptakan hukum islam. Kalian adalah seorang ahli agama yang dimasukkan Allah ke Fakultas kedokteran sehingga mampu menyejahterakan kesehatan ummat islam dengan ilmu kedokteran islam yang dapat membantah segala konspirasi barat yang mengatasnamakan ”kesehatan” sehingga mudah untuk dipercaya. Seperti halnya vaksinasi yang dimasukkan oleh dunia barat ke seluruh dunia terutama negara-negara islam agar populasi ummat ini dapat turun, kalaupun berkembang, dapat dipastikan kurang normal. Kenapa seperti itu, itu semua karena ternyta vaksin mengandung racun yang
Menurut Dr. W.B. Clarke yang merupakan seorang peneliti kanker di Inggris mengatakan bahwasanya, Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.
Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962 juga menyampaikan bahwasanya kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.
Bahkan ada yang pendapat yang lebih parah dan wajib kita perhatikan bahwasanya polio sangat membahayakan, yaitu komentar dari Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth” yang menyatakan bahwa, tidak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.
Padahal Rasulullah sudah mengajarkan pengobatan islami. Ada madu, ada kurma, ada habatus saudah. Akan tetapi fitnah kepada ummat ini angatah besar, betapa tidak orang-orang sudah terdoktrin barat bahwasanya orang-orang yang menggunakan madu atau kurma atau bahakan habatus sauda sebagai obat, dianggap sebagai teroris. Sungguh konspirasi barat terhadap ummat ini sangat lah wajib diwaspadai.


Waallahu ’Alam
Izzur Rozabi Mumtaz
Malang, 31 januari 2012
21:20

Senin, 30 Januari 2012

Black list kader



Kini kemakmuran Masjid Raden Patah hanya menjadi cerita yang bisa tidak bisa dilupakan untuk senior-senior masa itu. Fitnah yang berdatangan ibarat sebuah badai tsunami yang datang seketika, lalu menghancurkan semua bangunan yang dilewatinya. Akan tetapi, belajar dari tsunami. Separah apapun yang terjadi , Insya Allah masih bisa dibangun kembali. Seperti itulah dakwah yang coba dihancurkan kini, Allah pasti menolong hamba-Nya. Pertolongan itu sepadan dengan usaha yang dilakukan hamba-Nya. Masjid sebagai pusaran dakwah yang harus dipegang dan dimakmurkan. Dimakmurkan dengan suasana-suasana islami. Bukan dengan tradisi barat, atau yang sering kita lihat, ada beberapa takmir yang merokok. Wallahu ’Alam.
Sebagai sudut paling vital dalam dakwah, tempat yang pertama kali di bangun Rasulullah ketika sampai di madinah, beliau tidak langsung membuat sebuah rumah, akan tetapi membuat fasilitas untuk ibadah sosial terlebih dahulu. Masjid. Rasulullah sangat mengerti pentingnya masjid untuk pertumbuhan serta perkembangan dakwahnya kedepan.
Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Moh. Natsir. Tokoh perubahan sebelum dan setelah kemerdekaan. Negarawan yang minus pujian tersebut membuat sebuah masjig yang paling fenomenal di Indonesia. Masjid Salman. Sebuah nama yang sangat indah ini membumbung tinggi di Indonesia. Mulai dari masjid ini, akhirnya dakwah bisa berkembang pesat.
Seperti itulah seharusnya masjid untuk kemenangan ummat ini. Akan tetapi perlu usaha yang keras untuk menciptakannya. Walaupun Rasulullah tidak merasakan secara langsung efek dari pembuatan masjid di Madinah sampai saat ini. Walaupun Moh. Natsir tidak melihat hasil dari perjuangannya di tahun 2012, akan tetapi semoga Allah yang membalas kebaikan mereka semua.
Sebuah usaha, berbanding lurus dengan hasilnya. Usaha yang dilakukan Rasulullah kala itu tidaklah mudah. Beliau harus melepaskan diri dari kejaran kaum kafir terlebih dahulu untuk mencapai madinah, berbalik arah dari tujuan, sembunyi di Gua Hira, yang akhirnya membuat sebagai kota islam. Sebuah kota yang saat ini diidam-idamkan ummat muslim. Kota yang madani.
Kita juga patut melihat lagi sosok seorang ibu muda yang ditinggal berdua di padang pasir bersama anaknya hanya karena itu perintah Allah. Kehausan. Kepanasan. Bahkan masih sibuk dengan anaknya yang saat itu masih kecil, yang masih sering menangis. Ibu itu berusaha mencarikan air untuk anaknya.
Dia melihat ke bukit Safa, dilihatnya ada oase yang sepertinya segar, namun setelah berlari menuju bukit itu, dia tidak menemukan apapun. Lalu ditempat yang berlawanan arah, di bukit marwah tepatnya, dia melihat oase yang kelihatannya sangat sejuk, namun setelah dia mendatanginya, dia menemukan sesuatu yang sia-sia seperti di awal tadi. Namun dari bukit marwah, dia melihat ada oase yang terlihat menarik hatinya, dia pergi kebukit safa, namun ternyata dia kembali belum menemukan apa yang dia inginkan. Dan dia melihat keadian yang sama hingga 7 kali, namun setelah langkah ketujuh selesai. Akhirnya Allah berkehendak lain, Allah mengeluarkan mata air murni dari kaki anaknya yang masih kecil, Ismail. Air yang biasa disebut air zam-zam tersebut ternyata hadiah dari Allah kepada sosok ibu muda yang berusaha mencari air.
Allah lebih menilai usaha yang dilakukan, bahkan kelihatannya di mata manusia itu hanyalah pekerjaan kosong, namun itu semua berbeda di mata Allah. Itulah sedikit cerita tentang ditemukannya air zam-zam yang saat ini masih dapat dinikmati orang-orang yang pergi kesana. Berusahalah sekuat tenaga, akan tetapi jangan lupa terus berdo’a kepada Allah. Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.
Secantik-cantik rencana yang manusia buat, masih cantik rencana yang Allah buat. Believe it. Berawal dari beralihnya masjid kampus, hampir semua aktivitas dakwah mulai hilang satu persatu. Mulai dari kajian yang diadakan setiap hari senin sampai jum’at di Masjid Raden Patah ba’da Maghrib, sampai pertemuan pekanan atau biasa disebut halaqah yang biasa diadakan disana. Semua kebiasaan positif yang dapat membangun kader ke arah lebih baik, kini mulai hilang. Kader yang mulai kehilangan arah ketika masjidnya terampas. Akan tetapi mereka lupa atau bahkan tidak tahu bahwasanya ada salah satu ustad yang saat ini namanya tidak asing dengan kita berkata,
”Masjid Raden Patah sudah tidak bisa dipertahankan. Diluar masih banyak masjid-masjid untuk terus mencari dan mengembangkan ilmu”
Kurang lebih seperti itu tutur Ustad Alvin kepada takmir lama Masjid Raden Patah. Terkadang karena kurangnya komunikasi, menyebabkan perkataan tersebut tidak diketahui semua kader. Bahkan ada kader yang hanya mengharapkan pertemuan pekanan saja, halaqah. Ada kader yang mengharapkan kajian senin sore, kasensor. Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwasanya itu semua masih kurang, masih sangat kurang. Apalagi seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, tentu saja ilmu yang didapatkan dari kajian itu masih sangat kurang. Padahal ilmu diluar masih banyak, akan tetapi tidak semua kader mau untuk meraihnya.
Masih ada Masjid Ustman yang di belakang UIN, disana masih ada kajian yang membahas tentang keilmuan. Masih ada masjid Muhajirin di ITN. Masjid Assalam. Atau bahkan masjid Abu Dzar Al-Ghifari. Masjid di perumahan mewah yang terletak di Soekarno Hatta tersebut mempelajari banyak ilmu. Namun tidak semua kader mau memanfaatkannya.
Kader tarbiyah banyak yang tergantung dengan ustadz tarbiyah. Padahal ilmu dari jama’ah lain juga sangat diperlukan untuk dipelajari. Bahkan salah satu ustadz yang merasakan dampak dari kejadian fitnah di MRP, Ustadz Jalal, menyarankan agar kader sekarang harus lebih aktif mencari ilmu diluar. Beliau menyarankan untuk pergi ke kajian jamaah lain untuk mencari ilmu selagi itu masih positif dan dapat membawa perubahan pada dirinya dan lingkungannya.
”Ustadz tarbiyah tidak hanya sibuk di ranah dakwah atau syi’ar. Akan tetapi kami sibuk dengan dunia sosial yang berusaha mencetak masyarakat lebih madani. Dan ini menyita waktu kami pula. Apalagi ditambah dengan jumlah kader yang semakin tahun semakin meningkat, namun kualitas ustadz tarbiyah belum dapat menampung itu semua.”
Keilmuan yang rendah ditambah tidak adanya kemauan kader untuk mencari ilmu, menyebabkan kesombongan dan merasa diri sudah hebat. Padahal mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pendahulu-pendahulunya. Kalau kita melihat lagi, perhatikanlah Rasulullah yang masih saja mau untuk menerima wahyu dari Allah. Bayangkan kalau Rasulullah sudah merasa cukup dengan ilmu yang sudah beliau miliki, mungkin saja sekarang jumlah Juz di dalam surat Cinta-Nya tidak berjumlah 30 Juz. Wallahu ’Alam.
Bahkan generasi-generasi penerusnya masih seperti itu, seperti contoh lainnya, pemilik Mahzab yang paling populer di Indonesia, Imam Syafi’i, memiliki banyak guru dalam mencari ilmu walaupun ilmunya sudah banyak, namun beliau masih saja merasa kurang. Bagaimana kalau beliau sudah merasa cukup dengan ilmu yang ada? Bahkan beliau tidak pernah mewajibkan pengikut mahzabnya untuk selalu mengikuti apa yang beliau riwayatkan. Kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak?
Namun terjadi lagi penyakit yang berusaha memecah belah, sehingga terjadi pemisahan antara kader yang mengaji atau mencari ilmu di jamaah lain dianggap membahayakan, dianggap mulai keluar dari jama’ah, sehingga terjadi jarak, lalu lama-kelamaan hubungan mulai renggang, kader tersebut di black list. Na’udzu Billah. Semoga hal tersebut tidak terjadi di tempat kita.


Wallahu ’Alam
Izzur Rozabi Mumtaz
Malang, 29 Januari 2012
23:16

Masjid Raden Patahku, ini fitnah atau tidak, kita tetap berprasangka baik kepada Allah.



Kejayaan islam di brawijaya kini tinggal menjadi luka lama yang mungkin akan bisa disembuhkan serta dibalas di hari akhir nanti. Biarlah Allah yang membalas akan fitnah yang pernah terlontar tersebut. Karena pada hakikatnya hanya Allah lah yang menguasai hari pembalasan itu.
Sebuah surat masuk ke rektorat lantai 5. Surat yang meminta ijin untuk mengadakan kajian di Masjid Raden Patah tersebut berasal dari salah satu golongan menjadi awal kekeruhan di dalam dakwah ini.
Surat yang berisi perijinan untuk mengadakan kajian dari salah satu golongan tersebut disetujui oleh pihak rektorat, akhirnya takmir yang saat itu merupakan orang-orang dari aktivis dakwah kampus ini menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk kajian tersebut. Ada beberapa jamaah yang datang, namun setelah lama menunggu, ternyata ustadz tidak datang-datang. Kondisi saat itu masih hujan, jadi mungkin ihsanudz dzonnya, ustad sedang kehujanan, akhirnya tidak bisa menghadiri kajian dari golongan tersebut, sehingga kajian dibatalkan oleh mereka ssendiri.
Namun ternyata Allah memiliki rencana lain. Dan sungguh tidak dapat diduga. Keesokan harinya 200 orang dari golongan tersebut mengadakan demo. Demo yang sangat aneh. Aneh karena menuntut untuk membubarkan takmir Masjid Raden Patah. Kenapa?
”Masjid tersebut hanya dikauasai golongan tertentu. Kami mau mengadakan kajian saja dihalangi”
Subhanallah itu lah pendapat yang keluar. Yah ternyata golongan yang akan mengadakan kajian kemarin merasa sakit hati karena kajian mereka dibatalkan. Padahal kalau dilihat lagi. Ternyata ada beberapa faktor yang membuat itu semua tidak terlaksana.
Banyak teka-teki serta rahasia yang harus dibongkar atas kejadian ini. Diawali dari sebuah fitnah yang akhirnya mendatangkan lebih dari 200 massa untuk berdemo di bundaran rektorat yang dulu masih belum ada. Bahkan ada tulisan yang sungguh tidak mengenakkan,
“Bakar Jenggot”
“Bakar celana cingkrang”
Ketua takmir saat itu sangat membela masjid kebanggaan Brawijaya tersebut. Sembari meneteskan air mata, dia meneriakkan,
”Kami tidak bersalah, ini fitnah”
Aktivis dakwah lainnya hanya dapat menariknya dari kerumunan massa saat itu. Mengharukan mungkin kalau kita sedang berada disana.
Namun waktu seakan berjalan cepat, tidak terasa sekarang sudah 3 tahun lamanya. Sudah 3 tahun lebih lamanya Masjid Raden Patah berpindah tangan dari masa keemasan, menuju jaman yang sekarang. Kalau dulu senior-senior 2007 keatas masih bisa merasakan nikmatnya ukhuwah yang tercipta dari masjid tersebut, mungkin sekarang 2008, 2009, 2010, 2011, atau bahkan maba 2012 belum merasakan nikmatnya ukhuwah yang tercipta di masjid ini.
Ternyata orang-orang belum memahami islam secara sepenuhnya. Masih banyak yang memahami islam secara setengah-setengah. Bahkan melakukan sunnah Rasul seperti itu dianggap menyimpang dengan mereka karena mereka lebih mendahulukan adat daripada islamnya, sehingga susah untuk memberitahukan hal tersebut kepada mereka. Atau bahkan hal ini seperti yang dihaditskan Rasulullah bahwasanya mendekati hari kiamat, fitnah terhadap ummat ini akan semakin banyak. Ternyata benar saja. Semua golongan saling memfitnah satu sama lain, padahal yang memfitnah belum tentu golongan yang benar, atau bahkan yang difitnah merupakan orang-orang pilihan Allah.
Sekarang sudah nampak sekali fitnah terhadap ummat ini, terhadap dien ini. Orang menganggap bahwasanya yang bercelana cingkrang itu teroris, yang berjenggot teroris, yang tidak membaca basmallah ketika shalat dianngap menyimpang. Subhanallah. Lebih banyak beristighfar dan belajar tentang islam, jangan sampai konspirasi yahudi sudah merasuki pikiran kita sehingga saling menjelek-jelekkan golongan lain. Surga yang dijanjikan kelak aalah milik Allah, bukan milik manusia. Percuma saja menggaungkan golongan, toh bukan punya satu golongan kok surga itu.
Wallahu ‘Alam darimana asalnya konspirasi ini tercipta, namun sebegitu hebatnya konspirasi tersebut membuat media lokal meliput dan membuat berita yang kurang mengenakkan mengenai aktivis dakwah di Brawijaya.
Keesokan harinya setelah demo berlangsung, salah satu koran lokal yang memuat berita tentang Brawijaya menggratiskan korannya. Dan Brawijaya menjadi berita hangat saat itu.
”Masjid Raden Patah Brawijaya dikuasai golongan tertentu”
Kurang lebih seperti itulah Sebuah kejadian yang membuat gempar UNIBRAW ini membuat beberapa perangkat UAKI dipanggil rektorat. Mereka disidang. Seakan-akan mereka adalah pihak yang paling bersalah. Yah, ini fitnah atau tidak, kita tetap berprasangka baik kepada Allah.

Wallahu ’Alam
Izzur Rozabi Mumtaz
Malang, 29 Januari 2012
11:09

Masjid Raden Patahku, kader dakwah brawijaya mulai menurun



Kebangkitan islam di kampus sangat identik dengan perkembangan masjidnya. Kalau aktivisnya saja sudah jarang pergi ke masjid atau paling tidak jarang untuk berkumpul di masjid, maka dapat dipastikan bahwa kebangkitan kampus tersebut akan lama, atau kalau pernah mengalami kebangkitan, maka dipastikan dalam waktu dekat akan mengalami kemunduran. Ntah itu dari kemunduran moral atau atau kemuduran kader yang semakin lemah. Sebagai contohnya adalah brawijaya ketika aktivis dakwahnya menjadikan masjid sebagai tempat ”nongkrong” ikhwan untuk melakukan diskusi kecil-kecilan. Walaupun tidak jarang dari diskusi kecil-kecilan menjadi sebuah resolusi yang besar atau bahkan menjadi sebuah obat untuk mempererat ukhuwah diantara kader. Setelah menunaikan kewajiban shalat Duhur, seluruh kader berkumpul di masjid tersebut,
”Masih ada waktu satu jam yang bisa kita manfaatkan untuk berdiskusi”
Begitulah tutur salah seorang anggota kepada anggota lainnya ketika masjid benar-benar dimaksimalkan. Jadi waktu satu jam sangat menjadi perhiasan yang sangat mereka manfaatkan benar-benar. Namun itu cerita beberapa tahun yang lalu, yang saat ini sudah tidak kita lihat lagi. Yah kira-kira akhir tahun 2008 menjadi akhir semua, atau malah awal semua ini. Sekarang kader lebih memilih untuk memberikan sekat-sekat antara fakultas, sehingga satu brawijaya tidak saling kenal. Bahkan saat ini tidak jarang ada kader yang lebih memilih menghabiskan waktu satu jam, dua jam atau bahkan lebih di depan laptop atau HP untuk bermain dengan si biru -Red.facebook-, daripada menjalin ukhuwah dengan saudaranya.
Do’a Rabithah bermanfaat sebagai do’a pengikat, akan tetapi pengikat saja tidak cukup. Perlu usaha untuk mengikatnya. Tidak lantas hanya membaca doa itu, lalu duduk diam. Tidak terkadang juga diam ikhwah dalam bermain si biru dimanfaatkan untuk mengikat ukhuwah, namun tetap saja tidak sedikit yang tidak memanfaatkan itu. Lebih banyak bercanda di facebook yang dianggap sebagai strategi dakwah. Mungkin bercanda juga perlu, tapi ingat bercanda bisa melalaikan juga. Bahkan dapat menurunkan harga diri.
Bisa dikatakan kader dakwah brawijaya mulai menurun. Yang dibicarakan kebanyakan tentang politiknya, bukan lebih mengarah kepada dakwahnya, bukan mengarah kepada islamnya. Bahkan tidak sedikit kader yang merasa pintar dalam islam sehingga mati-matian mempertahankan doktrinnya, atau bahkan tidak mau kalah dengan pendapatnya. Padahal kalau disadari, bahwasanya ternyata kalau kita mempunyai satu masalah, lalu ditanyakan kepada 10 orang yang berbeda, maka akan menghasilkan jawaban yang berbeda pula. apalagi menanyakan kepada 10 harakah yang berbeda, pasti akan menemukan sebuah atau beberapa buah jawaban yang berbeda.
Banyak hal yang dibicarakan kader dakwah saat ini yang mereka anggap penting, tidak jarang ikhwan ataupun akhwat bahasannya nikah mulu. Padahal kalau dilihat lagi, apa yang sudah mereka berikan untuk dakwah? Namun apa yang sudah diberikan untuk dakwah, tidak lantas menjadi patokan untuk menikah pula, karena pada hakikatnya kita berdakwah tidak untuk menikah. Kalau bisa menikah di jalan dakwah, anggap itu sebagai bonus, bukan sebagai tujuan dari berdakwah.
Di dalam suatu kajian disebutkan bahwasanya orang yang merasa pintar, ternyata dia sendiri kurang pintar. Kebanyakan dari kader merasa cukup dengan membaca buku yang mereka miliki, atau bahkan merasa cukup dengan hafalannya, sehingga susah untuk ditambah, atau bahkan tidak bertambah-tambah. Padahal ustadz-ustadz yang sering mengisi di suatu kajian, mereka masih membaca, mereka masih terus belajar, bukan berarti mereka banyak mengisi tapi mereka tidak pernah diisi, kosong nantinya.

Wallahu ’Alam
Izzur Rozabi Mumtaz
Malang, 29 Januari 2012
10:36

Kembali lagi ke dalam dakwah



Menyentuh seseorang dengan hati lebih mengena daripada menyentuh nya dengan keras, walaupun pasti kena, tetapi pantulannya akan semakin keras pula. Seperti itulah dalam proses pengkaderan. Tekadang kader-ader baru tidak mau disalahkan, oleh karena itu lebih baik disentuh dengan hati. Karena akan membekas dalam waktu yang sangat lama.
Seorang laki-laki paruh baya yang sudah tidak muda lagi ini mendapatkan amanah besar. Mungkin dulu namanya tidak banyak dikenal, namun ternyata seiring berjalannya waktu, beliau sering muncul di TV. Walikota dimana tempat mobil nasional –mobil esemka- lahir ini merupakan sosok perubahan yang patut menjadi contoh untuk walikota lainnya. Beliau adalah Joko Widodo, atau biasa dipanggil Pak Joko Wi.
Sosoknya yang sangat bijak membuat orang lain mampu menerima pemikiran-pemikirannya perlahan mampu diterima masyarakatnya. Seperti ketika membersihkan PKL dari jalan raya yang mengganggu pemandangan Kota Solo. Mungkin di kota-kota lain kebanyakan terjadi bentrokan dulu, baru dipindah. Hal tersebut tidak dilakukan Pak Joko Wi. Beliau lebih memilih mengajak para pedagang makan bersama dirumahnya sembari berdiskusi. Dan hampir tempat di Kota Solo diajak makan sembari diskusi bersama. Tidak mudah memang, namun beliau mengagendakan pertemuan rutin dengan pedagang itu tiap pekannya. Seperti halaqah saja. Hehe. bahkan paling lama, beliau mengajak diskusi selama 7 bulan. Sangat lama dan tidak semua walikota mau melakukannya.
Sosok yang sekarang paling disegani di Kota Solo ini merupakan sosok yang bisa dibilang fenomenal di tahun 2011. Beliau sempat memecat beberapa camat hanya karena tidak mau mematuhi peraturannya.
”Pembuatan KTP maksimal 2 hari. Pembayaran maksimal 5 ribu”
Ternyata masih banyak camat yang melawan, kalau tidak salah ada 5 yang menolak peraturan itu, namun keesokan harinya 5 orang tersebut sudah tidak tercatat lagi sebagai camat. Subhanallah.
Kembali lagi ke dalam dakwah, kita seharusnya mencontoh Joko Wi. Menjadi orang yang Friendly. Menjadi tempat curhat, entah itu kawan atau bahkan lawan. Menjadi tempat yang bisa dipercaya, sehingga membuat orang disekitar kita merasa terayomi.ketika semua sudah merasa terayomi, maka dakwah akan menjadi sejuk dan nyaman untuk dirasakan semuanya.
Terkadang sosok seorang pemimpin sangat jauh dengan masyarakatnya, namun ketika melihat Pak Joko Wi yang masih menyempatkan waktu untuk berdiskusi dengan masyarakatnya yang mau dia gusur dan menempati tempat yang lebih layak, mengingatkan kita betapa pentingnya pendekatan melalui hati. Semua orang bisa mengatakan, akan tetapi tidak semuanya mampu melakukan.
Ketika banyak orang ingin bertemu, maka permudahlah. Teringat akan sosok seorang Umar Bin Abdul Aziz yang ketika akan menunaikan tidurnya, tiba-tiba ada pejabatnya yang ingin memberikan laporan, seketika sang khalifah mempersilahkan pejabatnya masuk. Lalu mendengarkan dengan baik semua laporan yang diberikan oleh pejabatnya. Seperti itulah ketika menjabat sebagai Ketua Umum, permudahlah staff untuk berinteraksi dengan kita, jangan dipersulit. Setidaknya hal tersebut kita lakukan pula kepada adik-adik atau mentee kita, sediakanlah waktu kita untuk mengunjungi mereka atau bahkan mengirimkan tausyah kepaad mereka.
Terkadang kader dakwah merasa mereka bukan lah tanggung jawab kita, mereka adalah tanggung jawab Murabbi masing-masing. Itu salah. Mereka adalah bagian dari saudara kita. Murabbi hanya berusaha mengikat, sementara kita berusaha menguatkan ikatan itu.


Wallahu ’Alam
Izzur Rozabi Mumtaz
Malang, 27 Januari 2012
17:29